Langit dan Bintang
Karya: M. Iqbal Eka Maulana, Kelas 8A MTs Darun Najah
Pada suatu hari, ada seorang laki-laki bernama Rava. Ia bekerja di sebuah rumah sakit umum. Sudah dua tahun ia mengabdi di sana. Salah satu temannya memutuskan berhenti bekerja karena merasa tidak sanggup lagi.
Keesokan harinya, datang seorang perempuan yang mendaftar kerja di rumah sakit itu. Namanya Kaila, dan ia langsung diterima. Besok paginya, ia mulai bekerja.
---
Pagi itu, pukul 07.00, Kaila berangkat. Ia agak gugup karena ini pertama kalinya ia bekerja di rumah sakit umum. Sebelumnya, ia pernah bekerja di rumah sakit jiwa.
Sesampainya di rumah sakit, ia bertemu dengan seorang laki-laki.
“Hai, nama kamu siapa?” tanya Rava ramah.
“Namaku Kaila. Kalau kamu siapa?” jawab Kaila.
“Namaku Rava.”
“Kamu sudah berapa lama kerja di sini?” tanya Kaila.
“Aku sudah dua tahun,” jawab Rava. “Kalau kamu?”
“Aku baru pertama kali masuk di sini. Kemarin baru daftar, dan langsung diterima,” kata Kaila.
“Oh gitu, yaudah. Aku lanjut kerja lagi, ya.”
“Maaf ya, kalau aku ganggu,” ucap Kaila.
“Enggak, nggak papa,” balas Rava.
Rava pun melanjutkan pekerjaannya. Waktu berlalu hingga jam pulang tiba.
“Kaila, pulang bareng yuk,” ajak Rava.
“Boleh,” jawab Kaila.
“Kita mampir ke taman dulu, yuk.”
“Terserah kamu deh.”
Setelah itu mereka pun pergi.
“Eh, aku mau ke kamar mandi dulu ya,” kata Rava.
“Iya, tapi jangan lama-lama,” jawab Kaila.
“Oke.”
Tak lama kemudian, Rava kembali. Tapi kali ini, ia membawa sehelai kain putih di tangannya...
---
“Kaila, aku boleh nggak nutup mata kamu sebentar?” tanya Rava sambil membawa kain putih.
“Iya, boleh. Tapi kamu mau ngapain?” tanya Kaila penasaran.
“Lihat aja nanti. Aku mau kasih sesuatu,” jawab Rava sambil tersenyum.
Kaila pun tersenyum malu-malu. “Yaudah deh.”
Akhirnya Rava menutup mata Kaila dengan kain putih, lalu menggandeng tangannya. Mereka berjalan menuju suatu tempat yang tenang.
“Jangan dibuka dulu ya, tunggu aku bilang ‘buka’ baru buka,” kata Rava.
“Oke,” jawab Kaila.
“1... 2... 3... buka!” kata Rava bersemangat.
Perlahan Kaila membuka matanya. Di hadapannya berdiri Rava dengan wajah serius, lalu tiba-tiba ia berlutut sambil membawa setangkai bunga.
“Kaila... kamu mau nggak jadi istriku?” tanya Rava dengan suara bergetar.
Kaila terkejut. “Aku... aku nggak tahu. Aku belum bisa jawab sekarang. Aku pikir-pikir dulu, ya.”
---
Keesokan harinya...
Rava kembali menemui Kaila. “Bagaimana, Kaila? Kamu mau kan?”
Kaila menatapnya, lalu tersenyum. “Iya... aku mau.”
“Alhamdulillah, ya Allah,” ucap Rava penuh syukur.
---
Delapan hari kemudian...
Rava dan Kaila duduk berdua di sebuah kafe, membicarakan rencana pernikahan mereka.
“Kaila, kapan kita nikah?” tanya Rava.
“Sabtu besok gimana?” jawab Kaila.
“Yaudah, sabtu besok. Tapi besok kamu ke rumahku, ya.”
“Ngapain aku ke rumahmu?” tanya Kaila.
“Ambil baju buat nikah lah,” kata Rava sambil tertawa kecil.
Kaila ikut tertawa. “Yaudah, tapi kamu jemput aku, ya.”
“Tenang aja, pasti aku jemput.”
“Jam berapa kamu jemput?”
“Jam delapan pagi,” jawab Rava mantap.
“Yaudah deh,” kata Kaila sambil tersenyum bahagia.
---
Keesokan harinya...
Rava menjemput Kaila dengan mobilnya.
“Kaila, ayo!” panggil Rava.
“Iya, sebentar,” jawab Kaila sambil berlari kecil keluar rumah.
Mereka pun berangkat menuju rumah Rava.
“Assalamualaikum,” ucap mereka ketika sampai.
“Waalaikumussalam,” jawab orang tua Rava sambil tersenyum.
Rava langsung memberikan sebuah baju cantik kepada Kaila. Kaila senang sekali menerimanya. Setelah itu, Rava mengantarkan Kaila pulang.
---
Lima hari kemudian, tepatnya hari Sabtu...
Hari yang ditunggu pun tiba. Rava dan Kaila melangsungkan pernikahan mereka. Suasana bahagia menyelimuti acara itu. Malam pertamanya pun mereka lewati dengan penuh rasa syukur.
---
Setahun kemudian...
Rava dan Kaila dikaruniai anak kembar. Mereka menamai keduanya Langit dan Bintang. Saat itu mereka masih berusia satu tahun. Waktu berjalan cepat, dan ketika umur mereka 19 tahun, sesuatu yang aneh terjadi.
Suatu hari, Langit melihat benda asing yang melintas di langit sore.
“Langit, kamu mau ke mana?” tanya Bintang curiga.
“Aku lihat sesuatu,” jawab Langit serius.
“Kamu lihat apa?”
“Pokoknya jangan ikut. Bahaya,” kata Langit cepat.
“Kenapa emangnya?” tanya Bintang heran.
“Bahaya. Jangan ikut. Aku yang urus sendiri,” jawab Langit mantap.
“Yaudah deh, aku tunggu di sini,” kata Bintang.
Langit pun berlari mengejar benda itu. Benda itu jatuh ke sebuah goa besar. Tanpa ragu, Langit masuk ke dalam goa tersebut. Di dalamnya, ia menemukan sebuah peti besar. Ia berusaha membukanya, tapi berat sekali. Warna peti itu berkilauan seperti emas bercampur cahaya aneh.
Akhirnya, dengan tenaga penuh, peti itu terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah keris kuno. Langit mengambil keris itu dan segera membawanya pulang.
Namun, ketika sampai di luar goa, Bintang sudah tidak ada.
“Bintang! Bintang, kamu di mana?!” teriak Langit panik.
Tak lama kemudian terdengar suara dari kejauhan.
“Langit, aku di sini!” jawab Bintang.
Langit berlari mendekat. “Kamu dari mana aja?”
“Aku tadi juga lihat sesuatu... ternyata tongkat ajaib,” kata Bintang sambil menunjukkan benda panjang berkilau di tangannya.
Langit terkejut melihatnya. Kini mereka berdua sama-sama memegang benda ajaib—keris dan tongkat—yang entah membawa bahaya atau takdir baru untuk hidup mereka.
---
“Tongkat ajaib? Waw!” kata Langit takjub.
“Kamu tadi lihat apa?” tanya Bintang.
“Aku lihat benda nggak jelas, ternyata keris kuno ini,” jawab Langit sambil menunjukkan kerisnya.
“Wah, keris kuno beneran!” seru Bintang.
“Kita bawa pulang yuk,” ajak Langit.
“Ayuk, tapi sebaiknya kita simpan di kamar,” kata Bintang.
“Setuju. Kita taruh di lemari baju aja.”
“Ide bagus,” timpal Bintang.
---
Malam harinya, mereka tidur pulas. Tapi keduanya mendapat mimpi aneh.
Langit bermimpi bahwa jika keris itu terkena air, ia akan berubah menjadi ular besar.
Sementara itu, Bintang bermimpi bahwa jika tongkat itu dilempar, ia akan berubah menjadi naga raksasa.
---
Keesokan harinya...
“Bintang, aku tadi malam mimpi tentang keris ini,” kata Langit serius.
“Aku juga, aku mimpi soal tongkat ini,” jawab Bintang.
“Emangnya, ada apa dengan tongkatmu?” tanya Langit.
“Kalau tongkat ini dilempar, dia bisa berubah jadi naga besar,” jawab Bintang.
Langit terkejut. “Keren banget! Kalau kerisku, kalau kena air bisa berubah jadi ular besar.”
“Kalau begitu... gimana kalau kita coba?” ajak Bintang.
“Tapi di mana?”
“Di hutan dekat sini aja.”
“Yaudah, ayo berangkat sekarang!” seru Langit.
Mereka pun pergi ke hutan dekat rumah. Sesampainya di sana, mereka mencoba apa yang ada di mimpi. Dan ternyata... benar!
Keris itu berubah menja
di ular raksasa, dan tongkat itu berubah menjadi naga besar yang mengeluarkan suara menggetarkan bumi.
Langit dan Bintang saling pandang. Mereka sadar, hidup mereka tak akan pernah sama lagi setelah menemukan benda ajaib itu.
Tamat
Tulisan Lainnya
Siswa-Siswi MTs Darun Najah Presentasikan Hasil Karya Projek P5
MTs Darun Najah kembali menunjukkan komitmennya dalam menguatkan karakter dan kreativitas peserta didik melalui kegiatan Presentasi Hasil Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Mendapatkan Hatinya
Karya: Nabilatus Syifa | Kelas 8 MTs Darun Najah Sore itu, langit tampak mendung. Kanaya duduk di bangku taman sekolah sambil menunduk, memainkan jemarinya sendiri. Ada rasa aneh yang
Kepala MTs Darun Najah Hadiri Pembinaan dan Penyelesaian EDM-RKTM Tahun 2025
Kepala MTs Darun Najah Petahunan, ustadzah Yu'fiyah Ilmi, S.Pd., M.Pd., menghadiri kegiatan Pembinaan sekaligus Penyelesaian Evaluasi Diri Madrasah (EDM) dan Rencana Kerja Tahunan Madra
Sahabat Selamanya
Karya: Soffiya Adinda | Kelas 7 MTs Darun Najah Di sebuah desa kecil, hiduplah lima sahabat yang selalu bersama sejak kecil. Mereka bernama Salsa, Dian Safira, Aprilia, Ainun, da
Kelinci yang Sombong
Karya: Aliyah Aqilah | Siswi Kelas 8 MTs Darun Najah Dahulu kala, hiduplah seekor kelinci. Kelinci itu bisa berlari sangat cepat. Ia selalu bangga dengan kehebatannya. Suatu hari, ia m
Kenangan Indah di SD
Karya: M. Iqbal Eka Maulana | Kelas 8A MTs Darun Najah Pada suatu pagi di bulan Agustus, sekolah Edo mengadakan berbagai lomba untuk merayakan Hari Kemerdekaan. Ada lomba makan k
Teman Kecil
Karya: M. Iqbal Eka Maulana | Kelas 8A MTs Darun Najah Di sebuah desa bernama Bayeman, tinggal seorang anak kecil bernama Ardi. Ia punya sahabat dekat bernama Alvian, yang bias
Mencintai Indonesia
Karya: Dyaz Davian Eka Saputra | Kelas 84 MTs Darun Najah Indonesia tanah airku, Merah putih berkibar di langit biru. Aku tersenyum penuh bangga, Melihat negeriku inda
Bahtera Nabi Nuh
Karya: Arya DA | Siswi Kelas 9 MTs Darun Najah ----- Air mata dan keringat bercampur di wajah Nabi Nuh. Di tengah padang luas, bahtera raksasa mulai terbentuk dari kayu-kayu yan
Guru
Karya: M. Nauval Aliv | Kelas 8 MTs Darun Najah Sebelum mengajar orang lain, ajarlah dulu hatimu sendiri agar ia kenal arti benar dan salah. Sebelum menebar ka