Bahtera Nabi Nuh
Karya: Arya DA | Siswi Kelas 9 MTs Darun Najah
-----
Air mata dan keringat bercampur di wajah Nabi Nuh. Di tengah padang luas, bahtera raksasa mulai terbentuk dari kayu-kayu yang disusun dengan hati-hati. Setiap palang yang dipasang, setiap papan yang ditegakkan, adalah bukti ketaatannya kepada Allah.
“Wahai kaumnya! Aku adalah pemberi peringatan bagi kalian. Jangan menyekutukan Allah!” seru Nabi Nuh sambil menatap kerumunan yang mengejeknya.
Kaum Nuh hanya tertawa. “Hahaha! Nuh, kapal di tengah padang pasir? Kau gila! Tunggu hujan? Mana mungkin!”
Namun, Nuh tetap tenang. “Jika kalian mengejek kami, sesungguhnya kami pun akan menyaksikan kehancuran kalian ketika waktunya tiba,” jawabnya dengan suara tegas, meski hatinya berat melihat kekerasan hati kaumnya.
Hari demi hari berlalu. Anak-anak, orang tua, bahkan para pemuda ikut menertawakan Nabi Nuh. Tetapi beliau tetap sabar, terus bekerja membangun bahtera yang akan menjadi tempat perlindungan bagi orang-orang yang beriman dan semua makhluk yang diperintahkan Allah.
Tiba-tiba, langit gelap, awan tebal menutupi matahari. Hujan deras mulai mengguyur bumi. Sungai-sungai meluap, dan tanah retak menjadi lautan luas. Mereka yang mengejek panik, berlari kesana kemari, tetapi semuanya terlambat.
“Naiklah ke dalam bahtera dengan menyebut nama Allah pada saat berlayar dan berlabuhnya!” Nabi Nuh memerintahkan para pengikutnya, sambil menatap air yang terus naik.
Satu per satu, hewan-hewan pun masuk: pasangan jantan dan betina, mengikuti perintah Allah. Bahtera bergerak perlahan, menembus gelombang yang semakin tinggi.
Kaum yang durhaka terombang-ambing di air, teriakan mereka menyayat langit. Nabi Nuh menundukkan kepala, memohon ampun dan rahmat Allah.
Hari berganti hari. Akhirnya, bahtera berlabuh di Bukit Judi, dan air mulai surut. Nuh menatap sekelilingnya: bumi yang dulu penuh durhaka kini menjadi tempat baru bagi kehidupan yang beriman.
Dengan suara lirih, Nuh bersyukur, “Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang. Terima kasih telah menolong hamba dan pengikut-Mu yang beriman.”
Bahtera itu kini menjadi simbol ketaatan dan kesabaran. Sebuah pelajaran abadi bahwa mukjizat Allah nyata bagi siapa pun yang benar-benar beriman.
Tulisan Lainnya
Siswa-Siswi MTs Darun Najah Presentasikan Hasil Karya Projek P5
MTs Darun Najah kembali menunjukkan komitmennya dalam menguatkan karakter dan kreativitas peserta didik melalui kegiatan Presentasi Hasil Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Mendapatkan Hatinya
Karya: Nabilatus Syifa | Kelas 8 MTs Darun Najah Sore itu, langit tampak mendung. Kanaya duduk di bangku taman sekolah sambil menunduk, memainkan jemarinya sendiri. Ada rasa aneh yang
Kepala MTs Darun Najah Hadiri Pembinaan dan Penyelesaian EDM-RKTM Tahun 2025
Kepala MTs Darun Najah Petahunan, ustadzah Yu'fiyah Ilmi, S.Pd., M.Pd., menghadiri kegiatan Pembinaan sekaligus Penyelesaian Evaluasi Diri Madrasah (EDM) dan Rencana Kerja Tahunan Madra
Sahabat Selamanya
Karya: Soffiya Adinda | Kelas 7 MTs Darun Najah Di sebuah desa kecil, hiduplah lima sahabat yang selalu bersama sejak kecil. Mereka bernama Salsa, Dian Safira, Aprilia, Ainun, da
Kelinci yang Sombong
Karya: Aliyah Aqilah | Siswi Kelas 8 MTs Darun Najah Dahulu kala, hiduplah seekor kelinci. Kelinci itu bisa berlari sangat cepat. Ia selalu bangga dengan kehebatannya. Suatu hari, ia m
Kenangan Indah di SD
Karya: M. Iqbal Eka Maulana | Kelas 8A MTs Darun Najah Pada suatu pagi di bulan Agustus, sekolah Edo mengadakan berbagai lomba untuk merayakan Hari Kemerdekaan. Ada lomba makan k
Langit dan Bintang
Karya: M. Iqbal Eka Maulana, Kelas 8A MTs Darun Najah Pada suatu hari, ada seorang laki-laki bernama Rava. Ia bekerja di sebuah rumah sakit umum. Sudah dua tahun ia men
Teman Kecil
Karya: M. Iqbal Eka Maulana | Kelas 8A MTs Darun Najah Di sebuah desa bernama Bayeman, tinggal seorang anak kecil bernama Ardi. Ia punya sahabat dekat bernama Alvian, yang bias
Mencintai Indonesia
Karya: Dyaz Davian Eka Saputra | Kelas 84 MTs Darun Najah Indonesia tanah airku, Merah putih berkibar di langit biru. Aku tersenyum penuh bangga, Melihat negeriku inda
Guru
Karya: M. Nauval Aliv | Kelas 8 MTs Darun Najah Sebelum mengajar orang lain, ajarlah dulu hatimu sendiri agar ia kenal arti benar dan salah. Sebelum menebar ka